Hempas Resiko Penularan HIV AIDS melalui Peran Konselor Sebaya pada Remaja

Jul 30, 2019

20 kali dibuka

Hempas Resiko Penularan HIV AIDS melalui Peran Konselor Sebaya pada Remaja

Konselor Sebaya merupakan sebuah langkah atau pendekatan konseling yang memberdayakan teman sebaya dalam mengajak, menyuluh, memberi pemahaman terutama tentang kesehatan pada remaja karena teman sebaya memiliki peranan yang kuat dalam kehidupan remaja.


Dinkes Kota Padang menggelar workshop konseling dasar HIV bagi remaja di aula Dinkes Kota Padang (29/7/2019). Peserta yang hadir merupakan perwakilan pelajar setingkat SLTP dan SLTA di Kota Padang. Dalam pembukaannya Ferimulyani selaku Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang memaparkan penyebaran bahwa penyakit HIV AIDS merupakan masalah kesehatan di Indonesia, termasuk Kota Padang. Berdasarkan data Dinkes Kota Padang tahun 2018, kasus HIV positif berjumlah 447 kasus dimana15 orang berada pada usiaremaja (14 – 19 th.

Workshop ini dilaksanakan untuk memberi pemahaman tentang bahaya HIV, menjauhi perilaku beresiko HIV seperti menggunakan narkoba dan seks bebas dan bersedia menyampaikan informasi yang di dapat kepada teman-teman lainnya, seperti yang disampaikan oleh Evawestari selaku Kasi Pencegahan Penyakit Menular disela-sela materinya.


Suasana diskusi berlangsung interaktif, semangat peserta menggali ilmu dari narasumber sangat antusias. “Apakah orang yang diperiksa HIV akan di jaga kerahasiaannya dan apakah pemeriksaan atau konseling bisa di temani oleh guru dan bukan orang tuanya?” tanya Elvi Komelia yang mewakili para guru yang hadir. “Hasil dari tes HIV akan di jaga kerahasiaannya oleh dokter atau konselor dan hanya akan di sampaikan pada orang yang bersangkutan, gurupun boleh mendampingi siswa yang sedang dikonseling”, terang dra.Kuswardanisusari P.MSI psikolog sebagai narasumber.


Selain menghadirkan narasumber ahli, Dinkes juga menggandeng ulama untuk memberikan materi. “Untuk menjadi generasi milenial yang bertaqwa, maka remaja harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai agama. Tanpa ada pengetahuan dan penerapan agama maka perilaku akan mudah menyimpang” ujar Ust.Ismed Eka Putra. “Apalagi di zaman kini, sosial media harus dibatasi, semakin banyak perilaku remaja yang tidak semestinya terkait penggunaan sosial media yang salah” tambahnya.


Diharapkan nantinya peserta yang hadir mampu menjadi pelopor peduli HIV dengan aktif sebagai konselor sebaya, melakukan edukasi kesehatan reproduksi remaja, membuat gerakan peduli HIV, tidak melakukan perilaku beresiko serta menerapkan hidup sehat dan produktif, terang Wanda Leksmana pemateri dari LSM Ruandu. “Jangan jauhi orang dengan HIV AIDS (ODHA) tapi jauhi virusnya, dan jadilah konselor sebaya yang baik”, pesannya di akhir materi.


Admin: TT
Redaksi: Fz