424 Daerah Endemik DBD

 

Di Sumbar, Tahun lalu Tercatat 28 Meninggal 

Penyakit demam berdarah (DBD) masih menjadi ancaman besar bagi masyarakat Indonesia. Apalagi, pada musim penghujan. Ancaman itu semakin diperburuk dengan status endemik DBD di 424 kabupaten/kota di Indonesia. 

Artinya, penyakit DBD secara menetap berada dalam lingkungan masyarakat di kabupaten/kota tersebut. Dengan demikian, penyakit DBD lebih mudah muncul kembali.

Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Mohammad Subuh mengatakan, daerah-daerah tersebut menjadi endemik lantaran sistem drainase yang buruk. Banyak selokan mampet dan menjadi sarang nyamuk. 

Selain itu, perubahan dan manipulasi lingkungan karena urbanisasi dan pembangunan pemukiman juga turut ambil andil. Sebab, sering kali bekas galian tak kembali ditutup dan akhirnya menjadi tempat kembang biak vektor pembawa virus dengue. 

Salah satu contoh daerah endemik DBD adalah daerah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

“Hingga saat ini, dari 424 kabupaten/kota itu belum ada yang dinyatakan bebas (endemik, red). Tapi yang lain juga berpotensi,” ungkap Subuh dalam temu media, di Kantor Kemenkes, kemarin (12/1). 

Makanya, masyarakat diimbau untuk terus waspada pada musim hujan saat ini. Sebab, populasi nyamuk Aedes Aegypti akan semakin meningkat. 

Kondisi ini, kata dia, juga harus menjadi perhatian serius dari pemerintah daerah (pemda) masing-masing. Pemda harus segera melakukan Kegiatan Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara continue.

Program PSN ini dipercaya bisa menurunkan bahkan mencegah penyakit DBD di masyarakat. Dia mencontohkan saat terjadi kejadian luar biasa (KLB) DBD di Jawa Timur pada tahun lalu.

Menurutnya, dari 38 kabupaten/kota di bawah pimpinan Soekarwo, hanya satu kabupaten yang tidak menyandang status KLB tersebut.  “Hanya Kabupaten Mojokerto yang tidak dinyatakan KLB DBD. Ini karena pemdanya rajin melakukan program PSN setiap minggunya,” jelas Subuh. 

Subuh menyebutkan bahwa sebuah daerah digolongkan KLB DBD jika sebuah daerah yang belum pernah terkena DBD timbul kasus DBD, jumlah kasus baru dalam periode tertentu meningkat dua kali lebih dibandingkan angka sebelumnya, atau angka kematian dalam kurun waktu tertentu meningkat 50 persen atau lebih dibandingkan periode sebelumnya.

Jika sebuah daerah telah ditetapkan sebagai KLB DBD, pemerintah akan memberikan dana penanggulangan sebelum kasus DBD mewabah di daerah tersebut. 

Selain PSN, hal lain yang bisa dilakukan untuk mencegah demam berdarah adalah dengan melakukan fogging focus. Fogging dapat dilakukan ketika ada lebih dari satu kasus DBD di lokasi yang sama dalam radius 100 meter, ada penularan, dan angka bebas jentik kurang dari 95 persen.

“Fogging focus dimaksudkan untuk membunuh nyamuk Aedes spp dewasa tetapi tidak efektif membunuh larva,” kata Subuh.

Jika kondisi tersebut sudah terjadi di lingkungan sekitar namun belum dilakukan fogging, masyarakat diimbau dapat mendatangi puskesmas setempat untuk meminta fogging di lingkungan Anda.

Agar fogging lebih efektif, masyarakat diimbau untuk melakukan gerakan 3M, yaitu menutup bak mandi, menguras bak mandi, dan mengubur barang bekas. Masyarakat juga diminta untuk selalu 

Subuh mengaku, kasus DBD sudah terjadi sejak 40 tahun lalu. Namun hingga kini, pemerintah belum secara utuh mengatasi kasusnya karena terus berulang tiap tahunnya.

Meski demikian, jumlah kasus DBD terus menurun tiap tahunnya. Dari data Kemenkes, pada Desember 2015 misalnya. Tercatat ada 1.104 kasus DBD di Indonesia. Jumlah ini menurun 6.752 kasus dari bulan yang sama di tahun sebelumnya.

Penurunan jumlah kejadian DBD turut dibarengi jumlah kematian akibat penyakit ini. Pada Desember 2015, jumlah korban meninggal sebanyak 31 orang, menurun dari Desember 2014, sebanyak 50 orang.  

Khusus Sumbar, Dinkes Sumbar mencatat terdapat 28 kematian di 16 kabupaten/kota provinsi akibat DBD sejak Januari hingga Desember 2015.

“Data yang diperoleh Dinkes Sumbar hingga tanggal 30 Desember 2015, terdapat 28 kasus DBD yang menyebabkan kematian khususnya di 16 dari 19 kabupaten/kota dan sembilan kasus di antaranya terjadi pada Desember 2015,” kata Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Sumbar, Irene di Padang, beberapa waktu lalu.

Rincian kematian sepanjang 2015 itu, menurutnya, delapan orang di Padang, enam orang di Dharmasraya, tiga orang di Sawahlunto, dua orang di Padangpariaman dan masing-masing satu orang di sembilan daerah lainnya. (*)